TRENDING
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

Cerpen Islami : Surat Terakhir Buat Kakak

      
       Setelah libur membagikan postingan selama akhir tahun dan tahun baru,Alhamdulillah, akhirnya bisa berjumpa lagi di tahun baru 2013 ini, :). Di awal perjumpa'an ini, admin ingin membagikan sebuah cerpen Islami karya Siti Nur, semoga ceritanya dapat membawa hikmah bagi kita semua,, aamiin.


“boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

          Sejenak kumenghentikan bacaanku, begitu makna Al-Baqarah ayat 216 aku pernah mendengarnya, rupanya orang mengutipnya dari sini, sebagai pengobat saat kuharus mengakui satu hal yang membuatku membenci keadaan ini

Aku menutup Al-Qur’anku tanpa menyelesaikan sampai maqro, tanpa Shadaqallah untuk mengakhirinya. Rasanya lidahku tak bisa membaca kalam Illahi itu dengan benar, percuma tak ada lagi teguran saat aku salah melafalkan tajwid maupun makhraj. Semua tak lagi kudapat semenjak orang itu diam dan tak bergerak sama sekali.

Katanya aku terlalu dini untuk mengerti semua ini, usia 12 tahun terlalu kecil untuk memahami yang sedang terjadi. Orang dewasa mana yang mengerti perasaanku bahwa aku sangat takut.
“Mifa, udah ngajinya” aku menengadah setelah membenamkan wajahku di samping orang yang saat ini masih tetap istiqomah dengan tidur panjangnya, aku menatap wanita yang berdiri dekat tempat dudukku, lalu kembali menatap orang itu yang wajahnya terhalang oleh ETT yang menerobos tenggorokannya, padahal jika tak ada alat itu ia begitu tampan.
“makan dulu ya, Ayah nunggu di kantin, biar kakak bunda yang jaga” bujuknya sambil mengelus kepalaku yang terbalut kerudung biru tua, warna favorit kakak.
Aku mengangguk pelan dan meletakkan Al-Qur’anku di atas meja, berat kakiku meninggalkan ruangan itu, ruangan dingin yang seminggu ini menjadi rumah kedua kami.

                                                                              ***

Azam, begitulah orang memanggilnya, ia akan protes bila aku memanggilnya kazam, kak Azam, itulah maksudku.

Jika orang bercerita tentang pacarnya, ayah atau bundanya, maka aku ingin menceritakan tentang kakakku, kakak juara satu yang kumiliki, kakak terhebat yang kuteriakan namanya agar semua tau, tak ada yang kubanggakan selain dia.
“kehidupan ini seperti ikhfa, samar. Nikmat yang Allah limpahkan itu seperti Idzhar, jelas”
“jadi hukum nun mati bertemu fa itu apa? Ikhfa atau Idzhar?”
“huruf Ikhfa ada berapa, lima belas” kak Azam belum kasih tau semuanya
“kalau Idzhar, kakak udah kasih tau, kan, apa Fa termasuk di dalamnya?”
“tidak”
“nah, sekarang kau tentu tau jawabannya, satu lagi yang mesti dibiasakan, panggil kakak aja, ga usah pake nama ga sopan”

Baru setahun ini kak Azam mengajarku, yang saat itu aku baru menamatkan iqro enam, saat itu ia masih terlihat baik-baik saja meski tubuhnya terlihat semakin kurus, aku tak tau apa yang terjadi, setauku kak Azam pulang dari pesantren karena sudah selesai Tsanawiyyah dan akan melanjutkan ke Aliyyah di pesantren yang berbeda.

Awalnya aku mengiyakan, karena alasan cukup berlogika, namun hampir sebulan pasca tahun ajaran baru, kak Azam belum mengurusi pendaftaran ke Aliyyah manapun dan tak ada tanda akan kembali ke ponpes, aku mulai curiga, hingga akhirnya tau semua yang disembunyikan.
“emang Mifa gak ingin ya, kakak tetap dirumah?” tanyanya saat aku bertanya kenapa belum kembali kepesantren
“yee, tidak kak, malah Mifa seneng, kan kakak bisa ngajarin Mifa sampai khatam” jawabku sambil memperhatikan kak Azam yang sibuk dengan notebooknya
“Mifa tau ga siapa yang menghidupkan kita” tanyanya
“Allah..!” jawabku enteng
“kalau begitu, Allah juga yang mematikan kita, nah kalo urusan mati, mau kakak dulu atau Mifa dulu?”
Sejenak aku diam dan berfikir “yang tua dulu dong kak, haha” candaku
Kak Azam tertawa pelan “kalo benar kakak mati duluan, Mifa jangan nangis ya, kan Mifa sendiri yang minta, hehe!”
“yee pede, sayang tau air mata Mifa kalau hanya untuk nangisin kakak” celetukku, padahal aku begitu takut jauh darinya, jangankan untuk mati, waktu dia di pesantren saja, aku suka nangis sendiri ngangenin dia.

Tidak adakah kata yang lebih sederhana untuk mengganti nama penyakit kanker atau karsinoma nasofaring lebih tepatnya, sehingga musibah ini tak perlu seperti kisah novel atau sinetron, hingga tak membuatku berdiri di puncak ketakutan yang maha tinggi, tidak adakah pilihan lain, Yaa Allah..?

Bagiku kak Azam begitu istimewa, sehingga Engkau perintahkan sel-sel jahat itu bersarang di belakang rongga hidungnya, bahkan kini telah menyebar pada organ tubuh lainnya, dan dengan mudah Engkau mengambilnya dari sisi kami. Tidak adakah cara yang lebih halus untuk ia memenuhi panggilan-Mu Yaa Allah..?

Aku tak suka kakak ku melawan penyakit itu hingga ia menitikan air mata menahan sakit yang membabi buta ketika radioterapi menyebabkan beberapa komplikasi. Aku tidak suka wajah tampannya terenggut akibat pembengkakan pada leher hingga wajah, apalagi suara indahnya yang ikut terampas, suara indah yang hanya dia yang punya, yang mengantarnya menjadi Qori internasional 3 tahun lalu, suara indah yang kudengar ba’da magrib dan subuh di balik pintu itu.

Bagaimana bisa Yaa Allah, Kau buat orang sebaik dia menderita seperti itu bahkan masih bisa mengatakan apa yang ia terima adalah sesuatu yang baik.

“bagi orang-orang beriman, segala keadaan tetap akan menjadi kebaikan, Rasulullah bersabda seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu menjadi baik baginya, jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya, jika ia tertimpa kesusahan ia bersabar dan itu baik baginya” katanya saat aku menangis di samping pembaringannya, suaranya yang pelan dan parau membuat tangisku semakin hebat
“katanya Allah itu maha adil, tapi kenapa Dia memberikan penyakit itu pada kakak, kakak kan rajin sholat, puasa sunnat dan rajin baca Al-Qur’an juga bahkan hampir hafal semuanya, kenapa gak orang jahat aja yang punya penyakit itu?”
“kakak juga rajin marahin kamu” ia tertawa pelan sambil mengelus rambutku yang tergerai, mata cekungnya yang mulai mengabur menatapku
“Mifa rela dimarahin terus, asal kakak tetap bersama Mifa”

Ia tersenyum merengkuhku hangat meski tubuhnya begitu dingin. “Allah sayang kakak, Mifa juga Bunda dan Ayah, Dia yang berkuasa atas hidup mati kita, terserah Dia mau apakan kita, tinggal kita menerima dengan ikhlas”

Ia sungguh dewasa, 3 tahun jauh dari Ayah Bunda membuatnya menjadi pribadi yang bijak, usianya 16 tahun tapi pemikirannya jauh dari anak-anak di atasnya.

“Mifa, kenapa makanannya dibiarkan begitu?” aku terhenyak menatap ayah yang sudah kembali dari sholat Isya, wajahnya mirip kak Azam, aku tau lelaki tua itu lebih takut kehilangan puteranya, tapi setidaknya ia sudah menghabiskan banyak waktu bersama kak Azam, sementara aku baru setahun bisa dekat dengannya, Ahh setidaknya Allah memberi kesempatan.
“Ayah tau ga, kenapa Mifa ga ingin ke pesantren seperti kak Azam” ayah diam menungguku menjawab sendiri pertanyaan itu.
“karena Mifa ingin selalu bersama ayah bunda, tapi kak Azam mengajarkan satu hal, semakin jauh jarak anak dan orang tua, semakin dekat batin keduanya, lulus SD nanti Mifa ingin ke pesantren, yah..!”
Ayah mencium puncak kepalaku, aku menangis dalam pelukannya.

                                                                                 ***

Aku, Ayah dan Bunda berdiri di samping kak Azam yang telah membuka mata, bahagia bukan buatan saat Bunda memberitahu bahwa kak Azam sudah sadar dari koma, ia tersenyum tipis padaku, ia sudah tak bisa bicara lagi penyakit itu telah merusak pita suaranya yang indah, yang dibanggakan semua orang saat suara itu menggemakan kalam-kalam Illahi.
“kok aneh ya, suara kak Azam indah?”
“karena nama kakak Azam, makanya suaranya sebening air zamzam, jadi jangan panggil kakak dengan nama jelek itu lagi..!” bangganya sambil melempar bantal ke arahku.
Aku cemberut “mentang-mentang udah terkenal, aku do’ain suaranya jadi jelek kayak bebek”
Tadinya aku hanya bercanda, tapi ternyata bagi Allah itu benar-benar do’a, aku sedih, menyesal seharusnya aku tidak bermain-main dengan lisanku.

“apa kak, kakak ingin bicara apa?” tanya bunda melihat bibir kak Azam bergerak kecil.
Kak Azam menatapku lalu melirik al-Qur’an di atas meja. Aku tau maksudnya, segera aku meraihnya dan duduk di kursi hati-hati ku buka surah al-Mulk, surah favorit kak Azam yang seminggu ini kucoba hafalkan, aku ingin seperti dia yang hafal surah-surah selain juz ‘amma.

Aku memulai, ayah diam menyimak, bunda mendekap kak Azam yang menatapku serius. Keadaan sunyi, hanya suaraku yang menjadi pengiring malam ini. Mengundang seseorang masuk dan makin banyak yang mengikuti, aku tak tau siapa itu, kehadirannya menghangatkan ruangan ini, mereka menyaksikan adegan mengharu biru ini.
“ma..hh.a..sih” ujarnya sangat pelan begitu aku selesai membaca kalam Allah itu. Aku perhatikan wajahnya diguyur keringat dingin bercampur debit darah yang deras meluncur dari dalam hidungnya, sederas air mataku yang tanpa kusadar sudah berlompatan dari kelopak mataku, napasnya memberat dan tubuhnya melemas, ia kembali tidur, tapi bukan untuk bangun kembali.

Ibu menangis ketika ayah mengucapkan “Innalillahi wainnailaihiroji’un” kalimat itu bagai hantaman batu-batu ababil, tapi air mata ini tak bisa mengubah ketentuan-Mu Yaa Allah, aku pernah bilang tidak akan menangis jika dia Engkau panggil, tapi aku tak bisa melakukan itu.

“tahukah kau, Mifa, saat kau baca kalam Illahi itu, para malaikat berjalan di belakang Izroil, membacakan doa buat kakakmu, menjemputnya menuju kebahagiaan yang sebenarnya, sungguh orang yang menganggap cobaan berat yang menimpa itu sesuatu yang baik, maka ia adalah sungguh-sungguh manusia terbaik”



Senin, 19 November 2012

Akhirnya ku temukan sosok dirimu

Cerpen :

Hangat matahari sore jatuh di halaman rumah. Sinarnya yang indah menambah kecantikan buga-bunga di taman. Tentu saja tak kusia-siakan pemandangan sore itu. Seperti biasa, aku dan ibu duduk berdua di teras rumah. Kebetulan rumah kami menghadap barat dan strategis untuk melihat matahari terbenam. 
            Ketika sedang asyik mengobrol dengan ibu, aku teringat kalau nanti malam aku punya acara dengan Zita. Zita adalah teman dekatku, malah pake banget deh dekatnya. Kami sudah berteman sejak kami masih di bangku Taman Kanak-Kanak atau yang terkenal dengan sebutan “TK”, hingga kini yaitu kelas 1 SMA. Kalau dihitung-hitung kami sudah kenal selama 10 tahunan.
            “Bu….Ibu, aku mau minta ijin boleh nggak ? “ tanyaku yang tiba-tiba memotong perbincangan kami.
            “Ijin apa Al, jangan bilang kalau kamu mau minta ijin ngambil duit ibu lho !”tebak ibu membuatku tertawa.
            “Hehe Ibu ini bisa aja !” jawabku tersenyum kecil.
            “Lalu ijin apa sayang ?”tanya ibu penasaran.
            “Gini lho Bu, nanti malam kan ada acara party di rumah temenku, aku diundang.” Jelasku pada
            “Malem to ndo ? memangnya kamu mau pergi sama siapa ?”tanya ibu dengan pandangan yang tajam setajam silet.
            “Ibu nggak perlu khawatir, aku kesananya sama Zita ko !”jawabku berusaha meyakinkan Ibu.
            “Owh sama Zita , ya tentu saja boleh !”jawab ibu dengan lega.
            Kalau sudah nyangkut Zita pokoknya beres deh, pasti ibu ngijinin. Ibuku sudah sangat percaya sama Zita, apalagi Zita anaknya baik.
            “Hore!!”gemuru hatiku bagai air terjun.
            Aku langsug masuk rumah dan mandi. Seperti biasa, kalau lagi mandi, aku pasti nyanyi. Rasanya nggak afdol kalau mandi nggak diiringi lagu merdu dari suaraku. Gini-gini aku pernah ikut KOOR  lho, ya walaupun hanya KOOR sewaktu upacara saja.
****
            “Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.”aku yang sedang berdandan bergegas meninggalkan kaca dan mengambil Hp.ku yang berbunyi.
            “Al, kamu udah siap kan ? Ayo berangkat !!
 Aku udah on the way nihh !” kata-kata itu muncul di Hp.ku.
“Okkeh !” balasku dengan Hp Blackberryku yang masih baru.
Kini aku sudah rapi, semuanya sudah lengkap, mulai dari tas sampai aksesoris, tak ketinggalan dompet.
“Ibu, Alya berangkat dulu yaa !”kataku dengan nada yang cukup gembira sambil mencium tangan ibuku tercinta.
“Ya hati-hati nak.”jawab ibu penuh kelembutan.
Kulangkahkan kakiku keluar rumah, kubuka pintu antik yang sudah cukup tua dengan perlahan.
“Hmm Zita mana yah ! Ko lama banget !”pikirku dalam hati sambil duduk santai di kursi goyang.
Kugerakkan ke depan dan ke belakang sampai kursi itu bergerak dengan sendirinya. Tak disangka kursi goyang itu mengantarkanku ke dunia khayal. Dunia yang tak asing bagiku. Di sana aku bermimpi sudah sampai di tempat party.
“Woww sungguh megah sekali party ini !”kataku.
“Semua orang yang ada di sini cantik dan ganteng semua.”lanjutku kagum.
Sambil tersenyum kecil, lamunanku terus mengalir bak air terjun yang mengalir. Begitu indah kejadian yang aku dapatkan dalam dunia khayal itu. Tapi, apa yang terjadi ! Tiba-tiba ketika aku sedang berjalan mendekati pria tampan yang memanggilku, ada sesosok misterius yang menepuk punggungku dari belakang.
“Oh tidak, pergi kau monster ! Jangan makan aku !”seruku dengan nada tinggi smpai-sampai kalau dipikir-pikir suaraku itu mengalahkan suara merdunya Gita Gutawa lho. Tai sayang, nggak ada yang mikir !
“Al,Alya ini aku Zita.”kita Zita
“Kamu nggak papa kan ?”lanjut Zita memastikan.
“Lho ko aku masih di rumah ? Tadi aku udah sampai di tempat partinya Mita !”perkataanku itu muncul dengan polosnya dari mulutku.
“Kamu tadi ngelamunin apa sih, dipanggilin ratusan kali malah diem aja !”jawab Zita sedikit kesal.
“Hehe maaf ya Ta,abisnya kamu lama banget sih !”jawabku seperti tak punya dosa.
“Ya udah capcuss yuh !kata Zita.
“Yuk, let’s go !”
****
            “Al, kamu udah bawa topeng ?”tanya Zita.
            “Topeng ? Buat apa ??”jawabku bingung.
            “Oh iya, kamu belum belum tau yah kalau partinya tuh pesta topeng !”kata Zita sambil membelokkan motornya kea rah toko.
            “Ya belum lah, dikasih tau juga nggak ! Gimana mau tau !!”jawabku sedikit kesal.
            “Udah donk cantik  jangan ngambek gitu, nanti cantiknya ilang lho ! Kita beli dulu yahh !” kata Zita mencoba merayuku.
            “Ya udah !”jawabku singkat.
****
            “Udah sampai Al, ayo turun !”seru Zita.
            “Ternyata party ini lebih indah dari lamunanku tadi. Hanya bedanya di sini semua orang memakai topeng, jadi wajah mereka tertutup, nggak tau deh yang ganteng yang mana.”gumam hatiku sambil tertawa.
            “Al,Ta, gabung ma temen yang lain gih !”sambut  Mita setelah kami mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
            “Ya makasih Mitt !”jawabku dan Zita kompak.
****
            “Cek….cek…..”tiba-tiba suara itu terdengar dari atas panggung.
            “Ya buat teman-teman semua, acara selajutnya adalah dansa berpasangan.”katanya mengumumkan.
            “Hah apa ? dansa berpasangan ?”tanyaku heran.
            “Jadi begini acaranya, nanti setiap orang akan mendapatkan pasngan masing-masing dengan cara semuanya berbaris, lalu mata kalian akan kami tutup. Langkah kaki kalian akan mengantarkan kalian pada pasangan kalian masing-masing.”kata seseorang di atas panggung sana bak seorang instruktur handal.
            “Ya, apakah kalian sudah siap ?”lanjutnya.
            “Siap !!”jawab semua orang.
            Sekarang semua orang sudah berbaris, dan mata mereka akan ditutup.
            “Al, ngapain sih pake acara ginian segala ?”tanya Zita yang memang anti sama yang namanya cowo gara-gara dia pernah broken heart.
            “Hahaa ini justru kesempatan bagus Ta !”jawabku iseng.
            “Ya langsung saja, mata kalian sudah ditutup, silakan kalian berjalan, ikuti kata hati kalian !”kata orang di panggung sana.
****
            Suasana dalam ruangan ini semakin ramai, sekarang semua orang sudah berpasangan, begitupun aku.
            “Ayo buka penutup mata kalian !”kata sang instruktur.
            “Dag dig dug duerrrr !!”itulah detak jantungku saat ini, bagaikan bom yang siap meledak.
            Semua mata sudah terbuka, kini semua orang bertatap-tatapan dengan pasangan mereka masing-masing. Begitu pun aku. Aku hanya busa melihat kedua matanya yang sangat tajam menatapku. Ku coba memalingkan  pandanganku ke bawah.
            “Hey kau baik-baik saja ?”kata cowo misterius yang rasanya tak asing bagiku.
            “Oohh iya nggak papa ko.”jawabku memandangnya.
            “Namamu siapa ?”
            “Aku….aku Alya.”jawabku singkat, namun ragu.
            “Oh Alya, senang berkenalan denganmu, aku Ilham.”suaranya tedengar lembut dan bersahaja di telingaku.
            “Mmmm ternyata orangnya ramah juga !”bisik hatiku sambil tersenyum padanya.
            “Ayo kita dansa!”ajak Ilham.
            “Tapi, aku tidak bisa dansa.”jawabku ragu.
            “Nanti aku ajarin, tenang aja !”jawabnya tersenyum.
****
            “Akhirnya sampai rumah juga !”seruku.
            Ku letakan tas, sepatu, gelang, dan lainnya di tempat asalnya. Sekarang aku sudah siap tidur. Tapi ada satu hal yang masih aku pikirkan. Aku masih penasaran dengan sesosok lelaki yang menjadi pasangan dansaku. Walaupun aku baru bertemu dengannya, tapi perasaanku terus mengatakan bahwa dia tak asing bagiku.
            “Aduh,, aku jadi nggak bisa tidur nihh !!”sesalku.
            “Rrrrddd……rddddd……rdddddd”Hpku getar, ada sms masuk.
            “Met bobo yaa Alyaa,  semoga mimpi indah.”
            “Lho ini sms dari siapa ! Ko nggak ada namanya yah !”kataku bingung.
            “Ini siapa yah ?”balasku singkat.
            “Aku Ilham, yang tadi dansa sama kamu.”aku kaget melihat balasan sms darinya. Ternyata dia Ilham, aku baru sadar kalau tadi dia minta nomor Hpku.
            “Ohh kamu toh ,ya makasih ucapannya.”balasku.
            “Ya sama-sama J” balasnya.
            Aku langsung tidur, karena besok aku harus sekolah.
****
            Sudah satu minggu ini aku berhubungan dengan Ilham. Walaupun hanya lewat sms saja, tapi rasanya aku sudah kenal dia lama sekali. Perasaanku terus menerus berkata dia orang yang tak asing bagiku. Perasaan ini ku ceritakan pada sahabatku, Zita. Dia memberikan solusi, sebaiknya aku tanya langsung sama Ilhamnya. Itulah yang dikatakan Zita. Tapi, ada yang masih mengganjal di hatiku untuk menanyakannya pada Ilham, aku masih ragu.
            Tiba-tiba aku teringat mas lalu, masa sewaktu aku SD. Dulu, aku pernah punya teman namanya juga Ilham, tapi aku memanggilnya Iam. Dia anaknya cukup bandel, sering jail sama aku. Jadinya aku cukup benci juga sama dia. Tapi anehnya walaupun benci, aku tetap nyaman aja berteman sama dia. Sampai pada suatu hari dia pergi, pindah sekolah ke luar kota. Aku baru merasakan kehilangan dia, saat dia telah pergi jauh. Tlah ku coba menghubunginya, namun tak pernah ada kabar apapun. Hingga kini aku tak tau bagaimana keadaannya. Saat itu aku pernah merasa terpuruk, karena aku telah membencinya. Benci yang tumbuh saat itu perlahan-lahan tumbuh menjadi rasa rindu. Untung ada temenku Zita yang menghiburku dalam keterpurukan itu.
            “Al, ko baksonya nggak dimakan ?buat aku aja apa ?”tanya Zita yang sedang memakan bakso di kantin, saat ini memang sedang jam istirahat.
            “Apa Ta?”kataku bingung.
            “Itu baksomu nggak dimakan non? Kamu ngelamun apa sih ?”tanya Zita sambil menunjuk mangkok baksoku yang masih tertata rapi, belum diberi saus atau kecap sedikitpun.
            “iya ni Ta,, aku masih kepikiran sama cowo misterius itu. Aku ngerasa kenal banget sama dia. Tadi waktu aku ngelamunin dia malah aku jadi inget sama Ilham temen SD kita.”jelasku dengan mengaduk-aduk es teh di hadapanku.
            “Ohh iya kamu benar Al !”kata Zita penuh semangat.
            “Benar apanya ?Emangnya lagi tebak-tebakkan apa ?”tanyaku.
            “Iya benar, benar-benar salah maksudnya !”ledek Zita yang membuatku sedikit kesal.
            “Eh Al, bercanda kali ! Ni aku serius, bisa jadi si Ilham cowo misterius itu adalah Iam teman semasa SD kita.”lanjut Zita bak seorang detectif  professional.
            Otakku berputar dan terus berputar. Jangan-jangan benar yang dikatakan Zita kalau Ilham adalah Iam, orang yang selama ini aku cari.
            “Tett…….tetttttt……”bel masuk berbunyi.
            “Ayo Al, masuk kelas sekarang pelajarannya Bu Killer nanti kita diomelin!” kata Zita serius.
****
            Akhirnya kubulatkan tekad, kusatukan niat. Ku ambil Hp.ku, pencet tombol tengah masuk ke kontak lalu pilih Ilham.
            “Siang Ilham, aku mau nanya nih !
              Nama lengkapmu sih siapa ?” lalu kirim.
            “Namaku Ilham Maulana,kenapa ?’jawabnya.
            Aku terkaget-kaget melihat sms itu.
            “Apa??Ilham Maulan ?itu nama lengkapnya Iam.”bisikku.
            Tanpa berpikir lama, aku memutuskan untuk mengajak Ilham ketemuan.
            “Ilham, datang ke café Cahaya yaa !
              Penting !!!!!!”
            Aku langsung ganti baju, kuambil tasku lalu langsung tancap gas ke café. ****
            Ternyata Ilham sms aku kalu dia udah sampai, tapi aku sempat bingung mencarinya, karena bertemu di pesta kami sama-sama memakai topeng. Ku langkahkan kakiku menuruti hati nuraniku. Tiba-tiba ku melihat wajah seseorang yang sudah lama hilang dari hidupku.
            “Iammm……”panggilku panjang.
            “Anda siapa ?Ko tau nama panggilan saya sewaktu kecil ?”tanyanya.
            “Ini aku Alya,Alya Fitria Rahma,temen SDmu, apakah kau ingat ?”kataku dengan mata yang berkaca-kaca,terharu.
            “Alya,, benarkah kau Alya ?”tanya Ilham dengan ragu.
            “Iya ini aku.”jawabku tak kuat menahan air mata yang akan menetes.
            Kami berdua pun duduk berdua. Ingin rasanya aku memeluknya untuk menghilangkan rasa rinduku,tapi ku ingat sesuatu. Dia bukan muhrimku. Setelah berbicara lama, ternyata benar kalau dia adalah si cowo misterius yang berdansa denganku. Dulu aku memang sempat membenci Iam, tapi sepertinya rasa itu mulai tumbuh menjadi cinta. Aduh,, BBC ! Benci bilang cinta ! ingin rasanya ku meneterwakan perasaanku sendiri. Ya Allah, apakah benar aku telah jatuh cinta padanya ? Terima kasih Ya Allah telah mempertemukan kami lagi. Akhirnya kini hidupku bertambah berwarna dengan kehadirannya.

source 

Selasa, 12 Juni 2012

Mencintai Tanpa Dicintai


Semua berawal dari pertama aku melihatnya saat dia bersama Bayu kekasih sahabatku, waktu itu aku bersama sahabatku Gita sedang berada di depan rumahnya Bayu. sebenarnya aku hanya bertujuan mengantarkan Gita ke rumahnya Bayu untuk menyelesaikan masalah yang membuat hubungan mereka sampai berantakan. tapi pada saat aku bercanda-canda dengan Bayu, dan Gita aku bertanya pada mereka siapa nama cowok yang nganterin Bayu pulang tadi ternyata namanya Najib. sejak itu aku selalu membayangkan dan terus memikirkanya, tak peduli pagi,siang dan malam aku selalu memikirkanya.
Ketika aku bertemu Gita di sekolah aku bercerita tentang perasaanku saat itu,"Git, akhir-akhir ini aku seneng bangets. ngak tau kenapa aku kalu inget temenya Bayu yang namanya Najib itu hati aku seneng bagets rasanya...!!!!"
"Ooh....mungkin kamu sedang jatuh cinta sama Najib!! dy juga baik banget kok orangnya, udah gitu dy orangnya sabar bangets, kayaknya dy tipe cowk setia dech...pas bangets buat kamu...?!!"
"mungkin saja Git, tapi apa dya juga punya perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasakan saaat ini....?"
"jujur saja aku ngak tau...! kalu kamu benerant sayang and cinta sama dy buktikan cintamu...!!"
"maksudnya...?"
"kamu buktikan cinta kamu itu ke dy, misalnya kamu bilang ke dy kalau kamu cinta sama dy..."
"ichh ngak ach...aku takut, dy kan cowok harusnya dy yang bilang ke aku bukan aku yang bilang ke dy..."
"iya kalau dy suka sama kamu juga, kalau ngak.....??"

Sambil mengerutkan dahi aku berfikir dengan matang-matang yang di bicarakan Gita itu, tak lama kemudian aku melihatnya baru datang ke sekolah..aduhhh senangnya hatiku saat itu tak bisa aku utarakan dengan kata-kata...aku sangat senang sekali melihatnya, senyumnya yang manis dan kebaikan hatinya telah mengembalikan rasa cintaku yang lama terkubur di dalam hati kini bisa merasakan cinta yang luar biasa itu karena dy...

"Ooh No...dy ada di sana Gita apa yang harus aku lakukan...?"
"cepat itu keempatan yang bagus untuk kamu..."
"ngak achh aku takutt Git.."
"ngak apa-apa Naya...."
"iya dech aku akan buktkan cintaku ke dy..."

Dengan langkah kecil dan pelan aku menghampirinya tapi dy tidak berhenti terus berjalan tanpa melihatku yang ada di hadapannya itu, waktu itu rasanya tubuhku tak bisa di gerakkan karena aku sangat gugup hingga aku tak mampu memanggil namanya ketika dy melewatiku,"Naya....katanya kamu mau bilang ke Najib kalu kamu suka sama dy,!?"

"Git..Gitttaa....aku ngak bisa mengatakan perasaanku yang sesungguhnya padanya, aku ngak sanggup..."

"gimana dia mau tau perasaan kamu kalau kamu ngak bilang ke dy..?"
"aku pasrah Git, kalau emang dy jodohku pasty dy akan jadi milikku...."
"kamu ngak boleh gitu, apa salahnya kalu kamu berusaha dulu...."
"bener juga katamu Git, aku ngak akan nyerah untuk memperjuangkan cintaku padanya...Ok!!! kalau gitu ntar sore kamu ajak dy ke PU(perpustakaan Umum) aku akan bilang ke dy kalau aku sangat mencintainya...."

"Ok lachh aku nanti akan bantu kamu semoga saja dy bisa menemui kamu di PU..."
lalu aku dan Gita kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran karena bel masuk sudah berbunyi. di tengah-tengah pelajaran aku tak memperhatikan sama sekali pelajaran yang di berikan ke pada guru, aku hanya mencoret-coret buku dan menulis-nulis sebuah puisi tentang isi hatiku tak terasa bel pulang sekolah berbunyi aku langsung buru-buru pulang dan bersiap-siap untuk ke PU untuk bertemu Najib..tapii hujan menhadangku jadi aku terpaksa harus menunda kepergianku, aku sempat kecewa karena Gita sms aku dy bilang kalau Najib tidak bisa karena rumahnya Hujan deras. aku sedih sekali mendengarnya, tapi aku kembali senang soalnya hujannya sudah reda dan Gita dan Najib bisa pergi ke PU, sampai disana aku menunggu Gita dan Najib, lumayan lama aku menunggunya tapi aku tak merasa capek karena aku sangat senang sekali, tak lama kemudian mereka datang aku senang sekali,"Hy.. lama bagets nyampeknya....?"

"nungguin Najib sama adiknya jadi agak lama,"
"Ooh..ngak apa-apa yang penting udha nyampek dengan selamat..."
"cepetan kamu jadi bilang ngak.."
"jadi donk..."
"ya udsh cepetan, aku akan ngajak adiknaya Najib supaya kamu bisa leluasa bicara sama Najib.."
"iya.."
Gita mengajak adiknya Najib bermain-main jauh dari aku dan Najib,Lalu Najib bertanya padaku mau bicara penting apa aku ke dy..dengan wajar malu dan gugup aku memaksakan diri untuk menjawabnya..."akuuuu...aakuu..., gimana kalau aku nembak kamu...kamu mau kan jadi pacarku..??!"

"kamu nembak aku..."
"iya...!!!"
"beneran kamu suka sama aku...??"
"iya...kenapa kamu ngak suka ya....?"
"bukan gitu, tapi aku suka sama anak lain dan itu bukan kamu, maaf aku bukan bermaksud menyakiti hatimu, tapi aku tidak bisa..."
"Oohh... ngak apa-apa kok aku tau itu....dan aku juga ngerti kok..."
"sekali lagi aku minta maaf...."
"iya ngak apa-apa...."

Tanpa aku sadari air mataku jatuh dengan sendirinya di pipiku dan aku berusaha untuk menahanya tapi air mata itu terus jatuh tak henti-hentinya aku berdiri dan berlari dan meninggalkan Najib yang sedang bersamaku tadi aku menangis karena hatiku rasanya seperti tercabik-cabik oleh benda tajam...Gita yang melihatku berlari dan menangis dy menghampiriku dan bertanya..."Naya kamu kenapa...?"

"aku ngak apa-apa hanya kelilipan saja kok..."
"kamu ngak usah bohong apa yang Najib katakan ke kamu sampai kamu menangis...?"
"dy ngak suka sama aku Git, dy suka sama orang lain yang mungkin lebih baek dari aku..hatiku sakit sekali Git..ternyata dy bukan untukku..."
"sabar Nay..mungkin nanti kamu akan menemukan cinta yang kamu mau..."
"aku akan bersabar Git, tapi aku tak tau apa aku masih bisa merasakan cinta lagi setelah hal ini terjadi..."

"kamu ngak boleh bilang gitu, mulai sekarang kamu harus buktikan pada dunia kalau kamu bisa melewati semua ujian dari Allah..."
aku mengangguk dan berjanji pada hatiku sendiri kalau aku akan tetap tegar meskipun sakit rasanya hatiku saat ini...dan akan aku buktikan kalau aku bisa melupakan Najib di hatiku meki hanya sekejap di hatiku dy sangat berartii sekalii


source
 
Back To Top